Anak
merupakan sosok penerus bangsa yang harus dijaga, dilindungi, disayangi, dan
dikasihi agar mereka dapat menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab,
berintegritas, dan berwawasan luas. Untuk itu adanya pendidikan merupakan
sarana maupun media untuk mewujudkan harapan bangsa. Bilamana semua anak
berkelakuan baik dan bertanggung jawab maka akan membawa pengaruh yang baik
pula bagi masa depan bangsa dan dirinya sendiri, sehingga berdasarkan ketentuan
dapat ditarik sebuah benang merah bahwasanya pendidikan adalah bagian dari upaya
untuk mencerdaskan setiap insan agar mereka dapat mengembangkan segala potensi
yang ada pada dirinya agar di kehidupan masa depan anak dapat menjadi manusia
yang berkarakter, bermartabat, berakhlaq baik, dan bermanfaat dalam kehidupan
bermasyarakat.
Pada aspek pendidikan dapat dilihat dengan adanya kebijakan belajar daring yang telah dicanangkan dan ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayan Bapak Nadiem Makariem. Berdasarkan hal tersebut, sekolah yang biasanya dilakukan dengan tatap muka harus dilaksanakan secara daring (online) melalui beberapa platform digital seperti Zoom, G-meet, WhatsApp Group, dll. Dengan adanya kebijakan tersebut berdampak pada sistem belajar anak yang biasanya dilakukan di dalam lingkungan sekolah dengan diselingi bermain pada saat jam istirahat berubah dratis. Dunia anak-anak tidak bisa disamakan dengan dunia orang dewasa, apalagi dalam hal metode pembelajaran. Orang tua harus dapat memberikan perlindungan hak-hak bagi anak.
Peran orang tua dalam hal ini sangat dibutuhkan dan sangat penting untuk kelanjutan belajar bagi seorang anak yang mungkin sudah lama tidak bertemu dan berinteraksi secara langsung dengan sosok guru yang dulunya selalu bertemu setiap hari di sekolah. Orang tua diharapkan selalu mengingatkan anaknya untuk tetap belajar di rumah seperti kegiatan sekolah pada umumnya. Orang tua harus lebih memperhatikan anaknya lagi agar selalu ingat dalam tugas sekolah dan sesegera mungkin mendampingi untuk memberikan arahan pembelajaran agar cepat selesai dan tidak menumpuk tugas yang lain.
Tentunya orang tua harus aktif dalam memperhatikan anaknya dalam pembelajaran daring, seperti memperhatikan tugas-tugas yang diberikan. Namun pada saat di rumah, orang tua yang memiliki pekerjaan sebagai pegawai yang membutuhkan waktu seharian untuk bekerja dan tidak memiliki waktu untuk anaknya akan menyebabkan anak kurang aktif belajar di rumah. “Saya setiap hari berusaha meluangkan waktu saya untuk anak, agar anak saya giat belajar. Sulitnya ketika anak sudah memegang hp seakan-akan dia lupa dengan kewajibannya agar tetap belajar di rumah.” Ujar Wiyono.
Potensi
kekerasan saat belajar di rumah memang ada, tidak dengan fisik tetapi dengan
kekerasan pengucapan orang tua pada saat pendampingi proses belajar mengajar.
“Saya senang mendampingi anak belajar, tetapi ketika anak saya mulai
bermalas-malasan saya menggunakan nada tinggi agar anak saya langsung belajar.”
Wiyono, saat ditemui di rumah (16/01/2021).
Hal
lain seperti merendahkan anak ketika tidak bisa mengerjakan tugas yang
diberikan juga termasuk kekerasan mental anak. Ini tidak efektif untuk belajar
justru menjadikan anak tertekan dan tidak bisa belajar dengan baik. Kekerasan
secara non fisik baik verbal maupun psikologi yang dilakukan orang tua seperti
membentak anak karena sulitnya anak untuk diberikan arahan belajar kemudian
unsur kekerasan non fisik berupa psikologi seperti mendiamkan anak hingga anak
mau belajar secara mandiri tanpa dampingan orang tua.
Di masa pandemi seperti ini semua kegiatan terganggu seperti perekonomian yang turun sangat drastis, PHK di mana-mana. Oleh karena itu, membuat orang tua berpikir lebih keras untuk bertahan hidup pada masa ini. Tentunya itu sangat menguras tenaga dan pikiran orang tua dan ditambah tugasnya untuk mendampingi anak dalam belajar daring, kebanyakan orang tua sangat kelelahan dan kuwalahan menghadapi tingkah laku anak yang sangat sulit diatur untuk mengerjakan tugas maupun belajar. Si anak memilih untuk main gadget yang diberikan dan bermain bersama teman-teman. Hal itu membuat konflik antara orang tua dan anak meningkat seperti membentak-bentak, memarahi anak, itu membuat psikis seorang anak akan terganggu.
Dalam menghadapi tantangan era revolusi 4.0 sistem daring
atau metode belajar online adalah
suatu terobosan yang cukup baik. Namun dengan kurangnya persiapan, membuat
banyaknya permasalahan yang timbul seperti di dunia pendidikan. Adapun hikmah
dalam metode pembelajaran ini untuk orang tua adalah “dapat melihat
perkembangan anak secara langsung saat proses belajar.” Ujar
Wiyono. Meskipun guru adalah garda
terdepan dalam dunia pendidikan, dalam era ini orang tualah yang menjadi
pengganti guru di rumah.
Orang tua harus dapat mendampingi kegiatan belajar daring di saat pandemi covid-19 semakin merajalela. Peran orang tualah yang dapat membantu guru, sehingga anak tidak kehilangan sosok guru di setiap harinya. Bilamana anak-anak hanya diberikan gadget tanpa pengawasan dan perhatian orang tua, anak-anak akan menggunakan gadget tidak sesuai dengan kebutuhan, misalnya saja hanya digunakan untuk bermain game, melihan konten youtube yang belum sesuai dengan usianya. Apalagi orang tua juga harus memberikan maksimal waktu untuk anak-anaknya menggunakan gadget saat belajar maupun bermain. Hal ini agar anak tetap dapat bersosialisasi, bercengkerama dengan anak-anak seusianya bukan hanya mengurung diri ditemani gadget saja.
Untuk meminimalisir kebosanan yang dihadapi anak , orang tua dapat memberikan waktu khusus kepada anak untuk bermain dengan teman sebayanya namun tetap mematuhi protokol kesehatan. Selain itu anak juga dapat diikutkan dalam kegiatan TPA (Ngaji) di Masjid/Mushola terdekat dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Hal ini dilakukan agar anak tidak terlalu merasakan ketakutan, kepanikan, bahkan kekhawatiran adanya pandemi ini. Orang tua harus memberikan arahan, pengertian, kasih sayang, perhatian kepada anak agar dapat memahami segala perubahan yang bersifat dinamis ini demi kebaikan dan kebermanfaatan bersama.
Komentar
Posting Komentar