RESENSI FILM "SHATTERED GLASS"

SHATTERED GLASS


Shattered Glass adalah sebuah film bertema jurnalistik. Shattered Glass diangkat berdasarkan kisah nyata yang terjadi pada majalah New Republic. New Republic dikenal sebagai koran di New York yang selalu membahasa tentang politik. Pada tahun 1998 film ini berfokus pada masalah yang terjadi di koran. Pada saat itu mereka mempunyai 15 orang jurnalis muda yang berumur sekitar 26 tahun dan seorang editor yang bernama Michael Kelly.

Stephen glass dikenal sebagai karyawan yang memiliki kepribadian menyenangkan, dia suka memberikan perhatian kepada sesama karyawan. Tulisan Glass memiliki ciri khas tersendiri dalam menggambarkan suatu kejadian, sehingga dia dikenal sebagai wartawan yang cerdas. Glass sangat mencintai pekerjaan, walaupun gajinya tidak sebanding dengan jam kerjanya yang gila. Glass berangan-angan tulisannya dapat dibaca orang-orang penting dan juga orang terkenal.

Pada saat itu Marty Peretz sebagai pimpinan redaksi New Republic, memberikan perintah kepada semua karyawan untuk menyunting artikel mereka yang bermasalah dengan tanda koma (,) karena tidak sesuai penempatan. Kelly editor New Republic tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh bosnya. Kelly berdebat dengan Marty karena ingin melindungi para karyawan, sehingga membuat Kelly akhirnya mengundurkan diri dari New Republic dan digantikan oleh Lane
.
Saat rapat mengenai berita apa yang akan diterbitkan. Glass bercerita tentang seorang hacker yang sudah membobol keamanan sebuah perusahan software besar. Glass mengatakan dia datang dalam acara hacker itu dan bagaimana caranya dia hadir dalam rapat hacker nasional. Lane kemudian menganggap bahwa cerita tersebut layak untuk diterbitkan dan dicetak dengan judul “Hacker Heaven”.

Seorang penulis majalah Forbes bernama Adam Penenberg, menemukan fakta yang tidak sesuai dengan artikel yang ditulis oleh Glass. Andy Fox rekan kerja Adam membantu untuk membuktikan fakta pada artikel tersebut. Kecurigaan pun benar, ternyata artikel Glass mengenai hacker tidak ditemukan fakta yang mendukung. Lene mendapat kabar dari majalah Forbes yang bingung dengan kebenaran fakta pada artikel Glass. Lene mencoba untuk membuktikan fakta dari artikel yang ditulis Glass, dalam prosesnya Glass ternyata selalu mengelak dan berbohong. Bahkan Lane meminta Glass untuk menemani datang ketempat acara itu berlangsung dan di tempat tersebut banyak bukti bahwa peristiwa itu tidak terjadi, Glass pun merasa dirinya ditipu.

Lane melanjutkan pencarian bukti kebenaran dalam artikel tersebut , karena dia masih curiga terhadap Glass. Setelah Lane menyelidiki orang-orang, waktu, dan tempat yang dituliskan oleh Glass ternyata hanya hasil karangannya saja. Lane pun melaporkan kepada Marty jika ingin memecat Glass, karena sudah berani membuat sebuah tulisan yang bohong akan kebenarannya. Namun, Marty meminta agar tidak dipecat untuk kepentingan politik majalah, karena jika Glass dipecat maka karyawan lain akan ikut mengundurkan diri.

Tak patah semangat untuk memperkuat fakta artikel yang ditulis Glass itu adalah bohong, Lane membaca beberapa artikel lain yang ditulis oleh Glass dalam majalah New Republic. Ternyata lagi-lagi Lane menemukan tulisan yang janggal, sehingga Lane memutuskan memecat Glass. Salah satu karyawan mengetahui bahwa Glass dipecat dan menganggap hal itu adalah keputusan yang salah. Lane menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan resiko fatal yang akan ditanggung New Republic selain meminta maaf atas artikel-artikel bohong, juga perusahaan kemungkinan akan ditutup. Setelah mendengar penjelasan Lane, karyawan lain pun mengerti dan mendukung keputusan Lane. Di akhir film terbukti bahwa dari 41 tulisan Glass, 27 tulisan diantaranya adalah bohong.

          Dalam 9 elemen jurnalisme salah satunya kewajiban utama jurnalisme ialah pada pencarian kebenaran. Tugas dari jurnalis adalah menyediakan berita yang factual dan terbukti kebenarannya. Seorang jurnalis dituntun mengejar sebuah kebenaran demi masyarakat. Karena artikel yang ditulis bertujuan merubah pola pikir masyarakat, bahkan merubah kebijakan politik.

Pada film “Shattered Glass” seorang Stephen Glass membuat artikel yang faktanya tidak sesuai dengan kebenaran. Kejujuran yang menjadi kode etik seorang jurnalis telah dikesampingkan oleh Glass demi popularitas. Namun tanpa disadari, hal yang telah dilakukannya malah membuat karirnya hancur sebagai seorang jurnalis. Bila dikaitkan dengan zaman sekarang, banyak sekali berita-berita yang hanya dibuat melalui asumsi semata. Seperti berita hoax yang muncul di mana-mana dan berhasil mempengaruhi pola pikir pembacanya. Berita tersebut sama seperti artikel yang ditulis oleh Glass hanya mementingkan populatitas di atas kode etik jurnalis. Keadaan tersebut diperburuk dengan munculnya berita di media sosial yang dengan cepatnya menyebar dan bahkan belum terbukti kebenerannya.

Di sinilah seorang jurnalis dituntut untuk menemukan cara bagaimana menyajikan sebuah berita yang factual dan menarik. Dengan begitu kode etik seorang jurnalis akan tetap terjaga dan menarik minat masyarakat untuk membaca sebuah berita. Popularitas bukan satu-satunya kepuasan yang dapat diterima oleh seorang jurnalis. Kepuasaan akan muncul jika seorang jurnalis menyajikan sebuah berita factual yang terbukti kebenaran data-datanya, sehingga dapat merubah apa yang ada di masyakarat menjadi sesuatu yang baik dan benar.

Sutradara         : Billy Ray
Produser          : Cgaig Baumgarten, Toye Chistensen, Gaye Hirsch, Adam Merims, and Marc Butan
Penulis              : Billy Ray
Pemeran           : Hayden Christensen, Peter Sarsgaard, Chloe Sevigny, Hank Azaria, Melanie Lynskey, and Steve Zahn
Narator            : Hayden Christensen
Musik               : Mychael Danna
Sinematografi    : Mandy Walker
Penyunting        : Jeffrey Ford
Tanggal rilis      : 10 Agustus 2003 (TIFF), 31 Oktober 2003 (LA/NY), 26 November 2003
Durasi              : 94 menit
Negara             : Amerika Serikat, Kanada
Bahasa             : Inggris

Komentar