Berawal dari virus yang terdeteksi pertama kali di
Wuhan, China yang disebut Covid-19 pada bulan Januari 2020, semua negara siaga
terhadap virus yang sudah merenggut ribuan jiwa orang di dunia. Termasuk dengan
Negara Indonesia yang terdampak Covid-19 pertama kalinya pada bulan Maret 2020.
Mulai dari saat itu kehidupan sehari-hari masyarakat di Indonesia mulai
dibatasi termasuk juga saya dan keluarga. Adanya peraturan dari pemerintah
untuk tidak boleh bepergian kemana-mana atau di rumah saja, penerapan jaga
jarak setiap individu (social distancing), harus menggunakan masker setiap
keluar rumah, dan rajin menjaga kebersihan.
Masuklah di bulan Ramadhan, bulan yang selalu
dinantikan setiap umat muslim dengan segala keberkahannya sangat jauh berbeda
dengan bulan Ramadhan tahun lalu. Di mana kegiatan kumpul bersama keluarga besar
untuk berbuka puasa, berkumpul dengan teman-teman yang dijadikan sebagai ajang
reunian sambil berbuka puasa bersama, merasakan ngabuburit di
Alun-alun Sukoharjo sambil membeli takjil, dan menikmati keramaian orang-orang
yang berlalu lalang, serta melaksanakan ibadah taraweh di masjid ditiadakan
karena adanya pademi Covid-19 yang semakin bertambah kasusnya.
Lebaran atau Idul Fitri adalah salah satu hari raya
umat muslim yang dirayakan setahun sekali. Setelah berpuasa selama sebulah
penuh, hari raya Idul Fitri dimaknai sebagai hari kemenangan. Idul Fitri juga
bisa dimaknai sebagai “kembali ke Fitrah”, artinya seseorang diharapkan dapat
bebas dari dosa dan menjalani hidup yang baru. Takbir mulai berkumandang di setiap
masjid perumahan. Lagi-lagi dengan suasana yang sangat berbeda dengan tahun
sebelumnya, takbir keliling di setiap masjid perumahan pun dibatasi untuk tidak
beramai-ramai dan berjaga jarak. Terdengar suara yang begitu indah nan merdu
dikumandangkan oleh anak-anak kecil dan remaja yang melewati depan rumah. Hati
menjadi damai, tentram, menambah nikmat syukur masih bisa merasakan lebaran
dengan keadaan yang sehat bersama keluarga meskipun hanya di rumah saja dan
diiringi dengan suara kembang api yang menambah suasana lebaran sedikit
terobati dengan kerinduan lebaran tahun lalu.
Keesokan harinya, semakin terasa berbeda yang
sebelumnya tahun lalu bangun pagi setelah shalat shubuh langsung bergegas ke
tanah lapang dekat rumah untuk melaksanakan shalat Idul Fitri, kini hanya
menjadi kenangan yang menciptakan rindu. Keadaan berbeda, tanah lapang yang
biasa digunakan untuk satu perumahan pun tidak ditiadakan, hanya ada shalat
Idul Fitri disekitar masjid terdekat dengan rumah masing-masing. Setelah shalat
biasanya lanjut halal bihalal pun kini tidak ada, hanya ucapan-ucapan berjauhan
yang saling berucap “Minal Aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin”.
Sesampainya di rumah hal yang pertama kali dilakukan adalah sungkem sebagai
penguat ikatan keluarga. Memohon maaf atas segala kesalahan yang disengaja dan
tidak disengaja kepada orang tua dan kakak.
Silaturahmi tetap berjalan melalui media sosial
seperti WhatsApp, Telegram, Instagram, Facebook, serta daring melalui video
call WhatsApp. Untuk mengobati kerinduan suasana lebaran bersama keluarga
besar, saya hanya bisa berlebaran melalui daring bersama keluarga besar yang
ada di beberapa wilayah, seperti Magelang, Jakarta, Depok, Banjar, Banyuwangi,
Bali, Medan, dan Ayah (kakek) dari Ibu saya yang sedang berada di Dili, Timor
Leste. Nuansa lebaran pun sama-sama merasakan perbedaan, meskipun dengan adanya
pandemi Covid-19 silaturahmi tidak akan terputus, kita masih bisa bersapa
kabar, memohon maaf lahir dan batin, dan bercerita hal-hal yang dirindukan saat
bersama, serta tidak lupa selalu ada kalimat manis saat menutup panggilan “semoga
kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT, selalu jaga kesehatan, sampai
bertemu diwaktu yang tepat”, ucap ibu saya. Dan semuanya saling berucap Aamiin
bersama.
Saya juga melakukan panggilan video call bersama
teman-teman. Betapa merindunya saat-saat menikmati bangku perkuliahan dengan
normal dan berkumpul bersama. “WhatsApp saiki iso 8 orang ayo ndang diupdate”,
ujar saya. Setelah itu saya menghubungi teman-teman yang sudah mengupdate
WhatsAppnya dan mulai berbincang-bincang dengan ketawa haha hehe, lalu memohon
maaf lahir dan batin. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H. Sedikit perbincangan
yang mengobati rasa rindu.


Komentar
Posting Komentar